Kamis, 23 Februari 2012

KISAHKU TENTANG ELANG


Tatkala pegunungan masih disaput mega
Tatkala rerumputan masih berselimutkan embun
Seekor burung elang di sarang
Menggeliatkan sayapnya yang hitam legam
Ia baru saja terbangun dari mimpinya yang indah
Tatkala ia masih bersama kekasihnya
Tatkala ia selalu terbang bersama pasangannya
Melewati hari-hari yang selalu penuh dengan kebahagiaan
Hari-hari yang selalu dilewatkan dengan kebersamaan
Penuh kemesraan
Penuh kenangan

Kini sarangnya selalu sepi dari tawa
Kini hidupnya telah jauh dari ceria
Karena betina pasangannya
Telah dibawa terbang elang yang lain
Karena betina kekasihnya
Telah terpikat pasangan yang lain

Hangat mentari pagi yang ramah
Telah menyadarkannya dari lamunan akan mimpi
Senyum mesra mentari yang selalu
Memancarkan kasih sayang
Dekap hangat mentari yang selalu
Menjanjikan  kebahagiaan

Ya, ia ingat sekarang
Ketika ia terbang kemarin siang
Dari kejauhan ia melihat telaga yang tenang
Yang sekelilingnya ditumbuhi pohon-pohon
Yang rindang
Ia akan coba menghampirinya
Ia akan coba mengunjunginya
Ia berharap akan bisa hinggap
Pada salah satu dahan pohon
Di pinggiran telaga itu
Ia berharap akan bisa menjadi
Teman setia telaga itu

Telaga yang selalu menggambarkan ketenangan
Telaga yang selalu memancarkan kearifan
Telaga yang selalu menyuguhkan kesabaran
Telaga yang selalu memberikan kasih sayang
Ia akan coba menyayanginya
Ia akan coba untuk setia menjaganya

Elang berharap telaga itu adalah
Pelabuhannya yang terakhir
Yang akan menjadi sahabat setia hidupnya
Yang akan menjadi tumpuan harapannya
Yang akan menjadi tumpahan keluh kesahnya

Ya, itulah harapannya
Itulah dambaannya
Dan ia yakin harapannya tidaklah
Tinggal harapan
Dan ia yakin dambaannya bukanlah
Hanya sekedar angan-angan

Elangpun terbang dari sarangnya
Membungbung ke langit biru
Menyongsong segala asanya
Menyambut kebahagiaan
Yang akan diraihnya

Senandungnya kini
Bukanlah keputusasaan
Dendang-dendangnya kini
Bukanlah nada kepahitan

Pabila kita dengar nyanyian kidung kasmaran
Itulah senandung sang elang
Yang sedang riang
Pabila kita cium kembang setaman
Itulah yang dibawa sang elang
Untuk pujaannya, sang telaga tenang.-

Minggu, 12 Februari 2012

Bingkai Sebuah Mimpi

Aku telah dikejar bayangan sendiri
Dan ketika kutemui orang-orang makin banyak bayangan yang mengejar
Mengejar dan terus mengejarku
Sampai kakiku lelah, sampai hatiku lelah

Sampai kakiku tak lagi bisa kugerakkan
Sampai hatiku tak lagi bisa merasakan
Dan bayangan itu tersenyum sinis ke arahku
Yang kemudian menyeringai, tertawa

Tertawa dan terus tertawa sampai telingaku tak kuat lagi untuk mendengarnya
walau kututup dengan kedua belah telapak tanganku
suara itu terus menggema, menggema dan terus menggema
Aku tak ingat apa-apa lagi

Dan aku terjaga saat ada suara lembut memanggil namaku
Tapi suara itu begitu aku kenal
Dan rasanya suara itu tak pernah terpisah dariku
Sepanjang usiaku sekarang, mungkinkah itu aku?

Kucoba untuk membuka kelopak mataku
Dan hei... bukaankah itu aku?
Bukankah yang ada di hadapanku
Adalah diriku sendiri?

Tapi mana mungkin aku bisa melihat
Diriku sendiri?
Iya terseyum kepadaku
Dan kucoba membalas keseyumanmu itu
Walau dalam kegetiran

Apa yang terjadi pada diriku
Wahai kembaran jiwaku
Aku begitu lelah,lelah sekali
Kasihan sekali belahan jiwa ku

Engkau lelah dikejar bayang-bayang mu
Dan bayang bayang orang orang yang kau temui
Duhai jiwa yang selalu yang membahagikan orang lain
Duhai diri yang selalu ingin berkorban untuk orang lain

Sesunguhnya semakin engkau berusaha mewujudkan impianmu
Sesungguhnya semakin engkau berusaha merealisasikan keinginanmu
Sebenarnya semakin jauh kau tinggalkan cita-citamu
Keinginan dan impianmu adalah hal yang mustahil untuk diwujudkan

Tak mungkin kita mampu membahagiakan semua orang
Karena tidak semua orang membutuhkan kita
Ketika kita menyadari bantuan
Dan wujud kebahagiaan yang coba kita berikan
Tak berarrti apa-apa hanyalah sia-sia

Sebenarnya disana kekecewaan itu kau rasakan
Dan semakin sering kekecewaan seperti itu kau rasakan
Maka kelelahan pun akan kau dapatkan terus kau dapatkan
Maka suatu saat kau tak akan mengenal dirimu sendiri

Maut 3

Walau kusadari batas senja kuasa penuh sang Maha Kuasa
Walau ku mengerti ujung hari rahasia sang Maha Tinggi
Tapi terkadang tetap saja
Ketakutan akan hari yang pasti selalu menghantui

Tetap saja kecemasan pada waktu yang telah ditentukan
Selalu datang membayangi
Apakah hamba masih bisa nikmati hangatnya
Mentari pagi esok hari

Dan mengagumi sembarut senja tiba diatas cakrawala
Hari itu pasti akan datang
Hari itu tak bisa dielakkan
Tapi..

Telah siapkah kita menerima kedatangannya
Masih banyak yang perlu dibenahi
Masih berjuta yang perlu diperbaiki
Harus !

Maut 2

Waktu yang kembali bergulir
Telah memaksaku kembali berpikir
Bahwa dunia memang ada akhir
Dari berlembar-lembar halaman dunia
Yang tak sengaja ku buka

Telah tergambar beberapa sketsa
Langkah gerak manusia
Dan nampak kesemuanya
Menuju pada satu titik
Titik akhir, batas akhir, perjalanan kita maut !

Yang Pergi

Kadang aku tak rela akan kepergian mentari diujung senja
Kadang kurasakan larut terlampau panjang
Aku tak sabar menanti pagi menjelang
Aku harus mulai belajar melepas kepergian mentari

Dan menerima kedatangan rembulan
Temui aku kembali mentari
Dendang kembali
Kidung kesabaranmu !

Jumat, 10 Februari 2012

BIRU

Hati, lihatlah banyak sandungan
yang harus kau lalui yang harus kau sadari
Bahwa rona dunia tak sama
Tak bisa kau paksakan

Biru dalam merah karena masing-masing punya ranah
Kau pun tak perlu melebur diri
Karena dunia mu, dunia biru dengan segala sifatmu
Sifatmu yang biru
Biru bukanlah merah, hatiku !

Akasia 4

Daun akasia yang pernah ku jatuhkan kedalam telaga
Masih tersimpan didasarnya
Sekali warnanya berubah jingga
Mungkin sengatan surya yang telah mencoba membakarnya

tapi mudah-mudahan tak kan lama
dan telaga masih mampu menjaganya
Sampai waktunya untuk kau bawa
Daun akasia tetap hijau waktu kau jatuhkan pertama
Semoga..